Tampilkan postingan dengan label etiologi skizofrenia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label etiologi skizofrenia. Tampilkan semua postingan

Rabu, 23 Januari 2013

Skizofrenia



1.    Pengertian Skizofrenia
Skizofrenia adalah suatu penyakit yang mempengaruhi otak dan menyebabkan timbulnya pikiran, persepsi, emosi, gerakan, perilaku yang aneh dan terganggu (Videbeck, 2008).
Skizofrenia berasal dari dua kata “Skizo” yang artinya retak atau pecah (spilt), dan “frenia” yang artinya jiwa. Dengan demikian skizofrenia adalah orang yang mengalami keretakan jiwa atau keretakan kepribadian (splitting of personality) (Hawari, 2003).
Skizofrenia adalah suatu bentuk psikosa fungsional dengan gangguan utama pada proses pikir serta disharmoni (keretakan, perpecahan) antara proses pikir, afek atau emosi, kemauan dan psikomotor disertai distorsi kenyataan, terutama karena waham dan halusinasi, asosiasi terbagi-bagi sehingga timbul inkoherensi (Direja, 2011).
Berdasarkan pengertian skizofrenia tersebut dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan skizofrenia adalah suatu penyakit yang mempengaruhi otak sebagai bentuk dari psikosa fungsional, menyebabkan timbulnya pikiran, persepsi, emosi, gerakan, perilaku yang aneh dan terganggu serta disharmoni (keretakan kepribadian) antara proses pikir, afek atau emosi, kemauan dan psikomotor disertai distorsi kenyataan, terutama karena waham dan halusinasi, asosiasi terbagi-bagi sehingga timbul inkoherensi.

2.    Etiologi Skizofrenia
Skizofrenia tidak disebabkan oleh penyebab yang tunggal, tetapi dari berbagai faktor. Menurut Arif (2006), adapun etiologi dari skizofrenia adalah sebagai berikut:
a.    Somatogenesis
Pendekatan somatogenesis berusahan memahami kemunculan skizofrenia sebagai akibat dari berbagai proses biologis dalam tubuh. Beberapa teori somatogenesis tentang etiologi skizofrenia, yaitu:
1)   Faktor-faktor genetik (keturunan)
Gen yang diwarisi seseorang, sangat kuat mempengaruhi risiko seseorang mengalami skizofrenia. Studi pada keluarga telah menunjukkan bahwa semakin dekat relasi seseorang dengan pasien skizofrenia, makin besar resikonya untuk mengalami penyakit tersebut.
2)   Biochemistry (ketidakseimbangan kimiawi otak)
Skizofrenia mungkin berasal dari ketidakseimbangan kimiawi otak yang disebut neurotransmitter, yaitu kimiawi otak yang memungkinkan neuron-neuron berkomunikasi satu sama lain. Beberapa ahli mengatakan bahwa skizofrenia berasal dari aktivitas neurotransmitter dopamine yang berlebihan di bagian-bagian tertentu otak atau dikarenakan sensitivitas yang abnormal terhadap domapine. Banyak ahli yang berpendapat bahwa aktivitas dopamine yang berlebihan saja tidak cukup untuk skizofrenia. Beberapa neurotransmitter lain seperti serotonin dan norepineprhrine tampaknya juga memainkan peranan.
3)   Neuroanatomy (abnormalitas struktur otak)
Berbagai teknik imaging, seperti Magnetic Resonance Imaging (MRI) telah membantu para ilmuwan untuk menemukan abnormalitas struktural spesifik pada ota pasien skizofrenia. Misalnya, pasien skizofrenia yang kronis cenderung memiliki ventrikel otak yang lebih besar. Mereka juga memiliki volume jaringan otak yang lebih sedikit daripada orang normal. Pasien skizofrenia menunjukkan aktivitas yang sangat rendah pada lobus frontalis otak. Ada juga kemungkinan abnormalitas di bagian-bagian lain otak seperti di lobus temporalis, basal ganglia, thalamus, hippocampus dan superior temporal gyrus.
b.   Psikogenesis
Psikogenesis, pemahaman kemunculan skizofrenia menurut pendekatan psikologis (khususnya psikodinamik), yaitu:
1)   Pandangan Sigmund Freud
Orang yang mengalami skizofrenia terfiksasi di fase early oral. Fase ini kepribadian seseorang sedang berada dalam tahapan primary narcissism dengan ciri belum mengenal object dan adanya omnipotence illusion. Dari primary narcissisme ia semestinya beralih ke object relations, dimana ia mengenal object dan omnipotence illusion-nya mengalami disillusionment. Perpisahan ini dapat terwujud dengan baik bilamana secara biologis ia berkembang dengan normal dan bilamana ia mendapatkan pengalaman dan pengasuhan yang memadai.
2)   Pandangan Harry Stack Sullivan
Harry Stack Sullivan meyakini bahwa skizofrenia berasal dari kesul;itasn-kesulitan interpersonal di masa awal kehidupan (terutama relasi orang tua dengan anak), dan dia mengkonseptualisasikan treatment sebagai proses interpersonal jangka panjang yang mencoba untuk mengatasi masalah-masalah awal itu.
3)   Pandangan aliran Ego Psychology
Psikolog ego awal mengamati bahwa kegagalan ego boundary adalah defisit utama pada pasien skizofrenia. Federn (dalam Arif, 2006) mengatakan bahwa pasien skizofrenia tidak memiliki batasan antara yang didalam dan yang di luar karena ego boundary mereka tidak lagi memadai.
4)   British Object Relation Theory
Kondisi keterpisahan dari relasi dengan orang lain yang dialami oleh pasien skizofrenia berakar pada gangguan dalam relasi paling awal, yaitu relasi antara bayi (yang kelak menjadi pasien skizofrenia).
3.    Tanda dan gejala
Menurut Hawari (2003), gejala-gejala skizofrenia dapat dibagi dalam 2 (dua) kelompok yaitu gejala positif dan gejala negatif. Selengkapnya seperti pada uraian berikut:
a. Gejala Positif Skizofrenia
Gejala positif merupakan gejala yang mencolok, mudah dikenali,  menganggu keluarga dan masyarakat serta merupakan salah satu motivasi keluarga untuk membawa klien berobat (Hawari, 2003). Gejala-gejala positif yang diperlihatkan pada klien skizofrenia yaitu:
1)        Delusi atau waham, yaitu suatu keyakinan yang tidak rasional (tidak masuk akal). Meskipun telah dibuktikan secara obyektif bahwa keyakinan itu tidak rasional, namun klien tetap meyakini kebenarannya.
2)        Halusinasi, yaitu pengalaman pasca indera tanpa rangsangan (stimulus). Misalnya klien mendengar suara-suara atau bisikan-bisikan di telinganya padahal tidak ada sumber dari suara atau bisikian itu.
3)        Kekacauan alam pikir, yang dapat dilihat dari isi pembicaraannya. Misalnya bicaranya kacau, sehingga tidak dapat diikuti alur pikirannya.
4)        Gaduh, gelisah, tidak dapat diam, mondar-mandir, agresif, bicara dengan semangat dan gembira berlebihan.
5)        Merasa dirinya “orang besar”, merasa serba mampu, serba hebat dan sejenisnya.
6)        Pikiran penuh dengan kecuringaan atau seakan-akan ada ancaman terhadap dirinya.
7)        Menyimpan rasa permusuhan.

b. Gejala Negatif Skizofrenia
Gejala negatif skizofrenia merupakan gejala yang tersamar dan tidak menggangu keluarga ataupun masyarakat, oleh karenanya pihak keluarga seringkali terlambat membawa klien berobat (Hawari, 2003). Gejala-gejala negatif yang diperlihatkan pada klien skizofrenia yaitu:
1)        Alam perasaan (affect) “tumpul” dan “mendatar”. Gambaran alam perasaan ini dapat terlihat dari wajahnya yang tidak menunjukkan ekspresi.
2)        Menarik diri atau mengasingkan diri (withdrawn) tidak mau bergaul atau kontak dengan orang lain, suka melamun (day dreaming).
3)        Kontak emosional amat “miskin”, sukar diajak bicara, pendiam.
4)        Pasif dan apatis, menarik diri dari pergaulan sosial.
5)        Sulit dalam berpikir abstrak.
6)        Pola pikir stereotip.


4.    Pengobatan Skizofrenia
Pengobatan harus secepat mungkin, karena keadaan psikotik yang lama menimbulkan kemungkinan lebih besar penderita menuju ke kemunduran mental. Biarpun pasien mungkin tidak sembuh sempurna, tetapi dengan pengobatan dan bimbingan yang baik, pasien dapat ditolong untuk dapat berfungsi terus, bekerja sederhana di rumah ataupun di luar serta dapat membesarkan dan menyekolahkan anaknya (Maramis, 2009). Adapun jenis pengobatan pada pasein skizofrenia (Maramis, 2009), adalah sebagai berikut:
a.    Farmakoterapi
Indikasi pemberian obat psikotik pada skizofrenia adalah untuk mengendalikan gejala aktif dan mencegah kekambuhan.
Strategi pengobatan tergantung pada fase penyakit apakah akut atau kronis. Fase akut biasanya ditandai oleh gejala psikotik (yang baru dialami atau yang kambuh) yang perlu segera diatasi. Tujuan pengobatan disini adalah mengurangi gejala psikotik yang parah. Dengan fenotiazin biasanya waham dan halusinasi hilang dalam waktu 2-3 minggu. Biarpun tetap masih ada waham dan halusinasi, pasien tidak begitu terpengaruh lagi dan menjadi lebih kooperatif, mau ikut serta dalam kegiatan lingkungannya dan mau turut terapi kerja.
Setelah 4-8 minggu, pasien masuk tahap stabilisasi sewaktu gejala-gejala sedikit banyak sudah teratasi, tetapi risiko relaps masih tinggi, apalagi bila pengobatan terputus atau pasien mengalami stres. Sesudah gejala-gejala mereda, maka dosis dipertahankan selama beberapa bulan lagi, jika serangan itu baru yang pertama kali. Jika serangan skizofrenia itu sudah lebih dari satu kali, maka sesudah gejala-gejala mereda, obat diberi terus selama satu atau dua tahun.
Setelah 6 bulan, pasien fase rumatan (maintenance) yang bertujuan untuk mencegah kekambuhan. Pasien dengan skizofrenia menahun, neuroleptika diberi dalam jangka waktu yang tidak ditentukan lamanya dengan dosis yang naik turun sesuai dengan keadaan pasien. Senantiasa harus waspada terhadap efek samping obat.
Strategi rumatan adalah menemukan dosis efektif terendah yang dapat memberikan perlindungan terhadap kekambuhan dan tidak mengganggu fungsi psikososial pasien. Hasil pengobatan akan lebih baik bila antipsikotik mulai diberi dalam dua tahun pertama dari panykit. Tidak ada dosis standar untuk obat ini, tetapi dosis ditetapkan secara individual.
Pemilihan obat lebih banyak berdasarkan profil efek samping dan respons pasien pada pengobatan sebelumnya. Ada beberapa kondisi khusus yang perlu diperhatikan, misalnya wanita hamil lebih dianjurkan haloperidol, karena obat ini mempunyai data keamanan yang paling baik. Pada pasien yang sensitif terhadap efek samping ekstrapiramidal lebih baik diberi antipsikotik atipikal, demikian pula pada pasien yang menunjukkan gejala kognitif atau gejala negatif menonjol.
Untuk pasien yang baru pertama kali mengalami episode skizofrenia, pemberian obat harus diupayakan agar tidak terlalu memberikan efek samping, karena pengalaman yang buruk dengan pengobatan akan mengurangi ketaatanberobatan (compliance) atau ketidaksetiaberobatan (adherence). Dianjurkan menggunakan antipsikotik atipikal atau antipsikotik tipikal, tetapi dengan dosis yang rendah.
b.    Terapi elektro-konvulsi (TEK)
Terapi elektro-konvulsi (TEK) baik hasilnya pada jenis katatonik terutama stupor, terhadap skizofrenia simplex efeknya mengecewakan, bila gejala hanya ringan lantas diberi TEK, kadang-kadang gejala menjadi lebih berat.
c.    Psikoterapi dan rehabilitasi
Psikoterapi dalam bentuk psikoanalisa tidak membawa hasil yang diharapkan, bahkan ada yang berpendapat tidak boleh dilakukan pada pasien dengan skizofrenia karena justru dapat menambah isolasi dan autisme. Psikoterapi suportif individual atau kelompok dapat membantu pasien serta bimbingan yang praktis dengan maksud mengembalikan pasien ke masyarakat. Teknik terapi perilaku kognitif (Cognitive Behaviour Therapy) dicoba pada psien skizofrenia dengan hasil yang menjanjikan.
Terapi kerja adalah baik sekali untuk mendorong penderita bergaul lagi dengan orang lain, pasien lain, perawat dan dokter. Maksudnya supaya pasien tidak mengasingkan diri lagi, karena bila pasien menarik diri dan membentuk kebiasaan yang kurang baik.

Senin, 14 Februari 2011

Pengaruh TAK Stimulasi Sensori Terhadap Kemampuan Komunikasi

ABSTRAK

Wirnata, M. 2011. Pengaruh Terapi Aktivitas Kelompok Stimulasi Sensori Terhadap Kemampuan Komunikasi Klien Skizofrenia di Rumah Sakit Jiwa Provinsi Bali. Tugas Akhir, Program Studi Ilmu Keperawatan, Fakultas Kedokteran, Universitas Udayana.

Latar Belakang
Skizofrenia adalah suatu penyakit yang mempengaruhi otak dan menyebabkan timbulnya pikiran, persepsi, emosi, gerakan, perilaku yang aneh dan terganggu. Salah satu terapi kelompok yang dapat dilakukan oleh perawat untuk meningkatkan kemampuan komunikasi pada klien menarik diri dengan skizofrenia adalah terapi aktivitas kelompok (TAK) stimulasi sensori. TAK stimulasi sensori terdiri dari 3 sesi, yaitu mendengar musik, menggambar dan menonton televisi.

Tujuan
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh TAK stimulasi sensori terhadap kemampuan komunikasi klien skizofrenia.

Metode Penelitian
Rancangan penelitian ini adalah quasi eksperiment, dengan pendekanan pre test and post test group design. Sampel terdiri dari 20 orang yang dibagi menjadi 2, yaitu kelompok perlakuan 10 orang dan kontrol 10 orang menggunakan teknik purposive sampling. Pengumpulan data menggunakan lembar observasi dan wawancara.

Hasil Penelitian
Hasil penelitian didapatkan ada perbedaan kemampuan komunikasi klien skizofrenia sebelum dengan sesudah TAK stimulasi sensori pada kelompok perlakuan (p=0,000) dan tidak ada perbedaan kemampuan komunikasi klien skizofrenia pre test dengan post test pada kelompok kontrol (p=0,111), serta ada perbedaan kemampuan komunikasi klien skizofrenia post test pada kelompok perlakuan dengan kelompok kontrol (p=0,012).

Kesimpulan
Ada perbedaan kemampuan komunikasi klien skizofrenia sebelum dengan sesudah TAK. Berdasarkan hasil penelitian tersebut disarankan kepada RSJ Provinsi Bali agar rutin memberikan asuhan keperawat berupa TAK stimulasi sensori dan memberikan pelatihan TAK secara berkesinambungan.

Kata Kunci: Skizofrenia, TAK Stimulasi Sensori, Komunikasi.

Rabu, 15 Juli 2009

SKIZOFRENIA

1. PENGERTIAN SKIZOFRENIA

Skizofrenia berasal dari dua kata, yaitu “Skizo” yang artinya retak atau pecah (split), dan “frenia” yang artinya jiwa. Dengan demikian seseorang yang menderita gangguan jiwa Skizofrenia adalah orang yang mengalami keretakan jiwa atau keretakan kepribadian (splitting of personality) (Hawari, 2003).

Skizofrenia adalah gangguan jiwa yang penderitanya tidak mampu menilai realitas (Reality Testing Ability/RTA) dengan baik dan pemahaman diri (self insight) buruk (Hawari, 2003).

Gangguan Skizofrenia adalah sekelompok reaksi psikotik yang mempengaruhi area fungsi individu, termasuk berpikir dan berkomunikasi, menerima, dan menginterprestasikan realitas, merasakan dan menunjukkan emosi, dan beperilaku dengan sikap yang dapat diterima secara sosial (Isaacs, 2005).

2. ETIOLOGI SKIZOFRENIA

Menurut Maramis (1994), faktor-faktor yang berisiko untuk terjadinya Skizofrenia adalah sebagai berikut :

a. Keturunan

Faktor keturunan menentukan timbulnya skizofrenia, dibuktikan dengan penelitian tentang keluarga-keluarga penderita skizofrenia dan terutama anak-anak kembar satu telur. Angka kesakitan bagi saudara tiri ialah 0,9 – 1,8%, bagi saudara kandung 7 – 15%, bagi anak dengan salah satu anggota keluarga yang menderita Skizofrenia 7 – 16%, bila kedua orang tua menderita Skizofrenia 40 – 68%, bagi kembar dua telur (heterozigot) 2 – 15%, bagi kembar satu telur (monozigot) 61 – 86%.

b. Endokrin

Skizofrenia mungkin disebabkan oleh suatu gangguan endokrin. Teori ini dikemukakan berhubung dengan sering timbulnya skizofrenia pada waktu pubertas, waktu kehamilan atau peuerperium dan waktu klimakterium.

c. Metabolisme

Ada yang menyangka bahwa skizofrenia disebabkan oleh suatu gangguan metabolisme, karena penderita dengan skizofrenia tampak pucat dan tidak sehat.

d. Susunan saraf pusat

Ada yang berpendapat bahwa penyebab skizofrenia ke arah kelainan susunan saraf pusat, yaitu pada diensefalon atau kortex otak.

e. Teori Adolf Meyer

Skizofrenia tidak disebabkan oleh suatu penyakit badaniah tetapi merupakan suatu reaksi yang salah, suatu maladaptasi. Oleh karena itu timbul suatu disorganisasi kepribadian dan lama-kelamaan orang itu menjauhkan diri dari kenyataan (otisme).

f. Teori Sigmund Freud

Terjadi kelemahan ego, yang dapat timbul karena penyebab psikogenik ataupun somatik. Superego dikesampingkan sehingga tidak bertenaga lagi dan Id yang berkuasa serta terjadi suatu regresi ke fase narsisisme.

g. Eugen Bleuler

Skizofrenia, yaitu jiwa yang terpecah-belah, adanya keretakan atau disharmoni antara proses berfikir, perasaan dan perbuatan.

h. Skizofrenia sebagai suatu sindrom yang dapat disebabkan oleh bermacam-macam sebab, antara lain keturunan, pendidikan yang salah, maladaptasi, tekanan jiwa, penyakit badaniah seperti lesi otak, arterosklerosa otak dan penyakit yang lain belum dikettahui.

i. Skizofrenia itu suatu gangguan psikosomatik, gejala-gejala pada badan hanya sekunder karena gangguan dasar yang psikogenik, atau merupakan manifestasi somatik dari gangguan psikogenik.

3. GEJALA KLINIS SKIZOFRENIA

Gambaran gangguan jiwa skizofrenia beraneka ragam dari mulai gangguan pada alam pikir, perasaan dan perilaku yang mencolok sampai pada yang tersamar. Sebelum seseorang sakit, pada umumnya penderita sudah mempunyai cirri-ciri kepribadian tertentu. Kepribadian penderita sebelum sakit disebut sebagai Kepribadian Pramorbid, seringkali digambarkan sebagai orang yang mudah curiga, pendiam, sukar bergaul, lebih senang menarik diri dan menyendiri serta eksentrik (aneh). Gangguan jiwa Skizofrenia biasanya mulai muncul dalam masa remaja atau dewasa muda (sebelum usia 45 tahun). Seseorang dikatakan menderita Skizofrenia apabila perjalanan penyakitnya sudah berlangsung lewat 6 bulan. Sebelumnya didahului oleh gejala-gejala awal disebut sebagai fase prodromal yang ditandai dengan mulai munculnya gejala-gejala yang tidak lazim misalnya pikiran tidak rasional, perasaan yang tidak wajar, perilaku yang aneh, penarikan diri dan sebagainya. Gejala – gejala Skizofrenia dapat dibagi dalam 2 kelompok yaitu gejala positif dan gejala negatif.

a. Gejala positif Skizofrenia

Gejala positif yang diperlihatkan pada penderita skizofrenia adalah sebgai berikut :

1) Delusi atau waham, yaitu suatu keyakinan yang tidak rasional (tidak masuk akal). Meskipun telah dibuktikan secara obyektif bahwa keyakinan itu tidak rasional, namun penderita tetap meyakini kebenarannya.

2) Halusinasi, yaitu pengalaman panca indera tanpa rangsangan (stimulus). Misalnya penderita mendengar suara-suara atau bisikan-bisikan di telinganya padahal tidak das umber dari suara atau bisikan itu.

3) Kekacauan alam pikir, yang dapat dilihat dari isi pembicaraannya. Misalnya bicaranya kacau, sehingga tidak dapat diikuti alur pikirannya.

4) Gaduh, gelisah, tidak dapat diam, mondar-madir, agresif, bicara dengan semangat dan gembiran berlebihan.

5) Merasa dirinya “Orang Besar”, merasa serba mampu, serba hebat dan sejenisnya.

6) Pikirannya penuh dengan kecurigaan atau seakan-akan ada ancaman terhadap dirinya.

7) Menyimpan rasa permusuhan.

Gejala-gejala positif skizofrenia amat mengganggu lingkungan (keluarga) dan merupakan salah satu motivasi keluarga membawa penderita berobat.

b. Gejala negatif skizofrenia

Gejala-gejala negatif yang diperlihatkan pada penderita Skizofrenia adalah sebagai berikut :

1) Alam perasaan (affect) “tumput” dan “mendatar”. Gambaran alam perasaan ini dapat terlihat dari wajag yang tidak menunjukkan ekpresi.

2) Menarik diri atau mengasingkan diri (withdrawn) tidak mau bergaul atau kontak dengan orang lain, suka melamun (day dreaming).

3) Kontak emosional amat ‘miskin”, sukar diajak bicara, pendiam.

4) Pasif dan apatis, menarik diri dari pergaulan sosial.

5) Sulit dalam berpikir abstrak.

6) Pola pikir stereotip.

7) Tidak ada atau kehilangan dorongan kehendak (avolition) dan tidak ada inisiatif, tidak ada upaya dan usaha, tidak ada spontanitas, menoton, serta tidak ingin apa-apa dan serba malas (kehilangan nafsu).

Gejala-gejala negatif skizofrenia seringkali tidak disadari atau kurang diperhatikan oleh pihak keluarga, karena dianggap tidak “mengganggu” sebagaimana halnya pada penderita skizofrenia yang menunjukkan gejala-gejala positif

4. JENIS-JENIS SKIZOFRENIA

Penderita skizofrenia digolongkan ke dalam salah satu jenis menurut gejala utama yang terdapat padanya. Adapun pembagian skizofrenia (Maramis, 1994) adalah sebagai berikut :

a. Skizofrenia simplex : sering timbul pertama kali pada masa pubertas. Gejala utama pada jenis simplex ialah kedangkalan emosi dan kemunduran kemauan. Gangguan proses pikir biasanya sukar ditemukan. Waham dan halusinasi jarang sekali. Jenis ini timbulnya perlahan-lahan sekali.

b. Skizofrenia hebefrenik : permulaannya perlahan-lahan atau subakut dan sering timbul pada masa remaja atau antara 15 – 25 tahun. Gejala yang menyolok ialah : gangguan proses berfikir, gangguan kemauan dan adanya depersonalisasi. Waham dan halusinasi banyak sekali.

c. Skizofrenia katatonik : timbulnya pertama kali antara umur 15 – 30 tahun, dan biasanya akut serta sering didahului oleh stress emosional. Mungkin terjadi gaduh gelisah katatonik atau stupor katatonik.

d. Skizofrenia paranoid : gejala-gejala yang menyolok ialah waham primer, disertai waham-waham sekunder dan halusinasi. Pada pemeriksaan yang teliti adanya gangguan proses berfikir, gangguan afek, emosi dan kemauan.

e. Episode Skizofrenia akut : gejala skizofrenia timbul mendadak sekali dank lien seperti dalam keadaan mimpi. Kesadrn mungkin berkabut.

f. Skizofrenia residual ialah keadaan skizofrenia dengan gejala-gejala primer, tetapi tidak jelas adanya gejala-gejala sekunder. Keadaan ini timbul sesudah beberapa kali serangan skizofrenia.

g. Skizo-afektif ; gejala-gejala skizofrenia terdapat menonjol secara bersamaan juga gejala-gejala depresi atau gejala-gejala mania. Jenis ini cenderung untuk menjadi sembuh tanpa efek, tetapi mungkin juga timbul lagi serangan.

5. TERAPI (PENGOBATAN) SKIZOFRENIA

Ganguan jiwa skizofrenia adalah salah satu penyakit yang cenderung berlanjut (kronis, menahun). Oleh karenanya terapi pada skizofrenia memerlukan waktu relatif lama berbulan bahkan bertahun, hal ini dimaksudkan untuk menekan sekecil mungkin kekambuhan (relapse). Terapi yang dimaksud meliputi terapi dengan obat-obatan anti Skizofrenia (psikofarmaka), psikoterapi, terapi psikososial dan terapi psikorelegius (Hawari, 2003).

a. Psikofarmaka

Adapun obat psikofarmaka yang ideal yaitu yang memenuhi syarat-syarat antara lain sebagai berikut :

1) Dosis rendah dengan efektivitas terapi dalam waktu relatif singkat.

2) Tidak ada efek samping, kalaupun ada relatif kecil.

3) Dapat menghilangkan dalam waktu relatif singkat gejala positif maupun negatif skizofrenia.

4) Lebih cepat memulihkan fungsi kognitif (daya pikir dan daya ingat).

5) Tidak menyebabkan kantuk.

6) Memperbaiki pola tidur.

7) Tidak menyebabkan habituasi, adiksi, dan dependensi.

8) Tidak menyebabkan lemas otot.

9) Kalau mungkin pemakaiannya dosis tunggal (single dose).

Jenis obat psikofarmaka dapat dibagi menjadi dua golongan yaitu golongan generasi pertama (typical) dan golongan generasi kedua (atypical).

1) Termasuk golongan generasi pertama misalnya : Chlorpromazine HCL (Largactil), Trifluoperazine HCL (Stelazine), Thioridazine HCL (Melleril), Haloperidol (Haldol, Serenace).

2) Termasuk golongan generasi kedua misalnya : Risperidone (Risperdal), Clozapine (Clozaril), Quetiapine (Serquel), Olanzapine (Zyprexa).

b. Psikoterapi

Terapi kejiwaan atau psikoterapi pada penderita skizofrenia, baru dapat diberikan apabila penderita dengan terapi psikofarmaka sudah mencapai tahapan di mana kemampuan menilai realitas (Reality Testing Ability/RTA) sudah kembali pulih dan pemahaman diri (insight) sudah baik. Psikoterapi diberikan dengan catatan bahwa penderita masih tetap mendapat terapi psikofarmaka.

Psikoterapi diberikan tergantung dari kebutuhan dan latar belakang penderita sebelum sakit (Pramorbid), adapun macam psikoterapi adalah sebagai berikut :

1) Psikoterapi Suportif, dimaksudkan untuk memberikan dorongan, semangat dan motivasi agar penderita tidak putus asa dan semangat juangnya (fighting spirit) dalam menghadapi hidup ini tidak kendur dan menurun.

2) Psikoterapi Re-edukatif, dimaksudkan untuk memberikan pendidikan ulang yang maksudnya memperbaiki kesalahan pendidikan di waktu lalu.

3) Psikoterapi Re-konstruktif, dimaksudkan untuk memperbaiki kembali (re-konstruksi) kepribadian yang telah mengalami keretakan menjadi pribadi utuh seperti semula sebelum sakit.

4) Psikoterapi Kognitif, dimaksudkan untuk memulihkan kembali fungsi kognitif (daya pikir dan daya ingat) rasional sehingga penderita mampu membedakan nilai-nilai moral etika, mana yang baik dan buruk.

5) Psikoterapi Psiko-dinamik, dimaksudkan untuk menganalisa dan menguraikan proses dinamika kejiwaan yang dapat menjelaskan seseorang jatuh sakit dan upaya untuk mencari jalan keluarnya.

6) Psikoterapi Perilaku, dimaksudkan untuk memulihkan gangguan perilaku yang terganggu (maladatif) menjadi perilaku yang adaptif (mampu menyesuaikan diri).

7) Psikoterapi keluarga, dimaksudkan untuk memulihkan hubungan penderita dengan keluarganya.

c. Terapi Psikososial

Terapi psikososial dimaksudkan penderita agar mampu kembali beradaptasi dengan lingkungan sosial sekitarnya dan mampu merawat diri, mampu mandiri tidak tergantung pada orang lain, sehingga tidak menjadi beban bagi keluarga dan masyarakat.

d. Terapi Psikoreligius

Terapi keagamaan (psikoreligius) terhadap penderita Skizofrenia dimaksudkan gejala patologis dengan pola sentral keagamaan dapat diluruskan, dengan demikian keyakinan atau keimanan penderita dapat dipulihkan kembali di jalan yang benar.

6. KRITERIA SEMBUH KLIEN SKIZOFRENIA

Menurut Handayani (2008), kriteria sembuh untuk klien skizofrenia dibagi menjadi 2 (dua), yaitu :

a. Remisi (sembuh bebas gejala) menunjukkan klien, sebagai hasil terapi medikasi terbebas dari gejala-gejla skizofrenia, tetapi tidak melihat apakah klien dapat berfungsi atau tidak.

b. Recovery (sembuh tuntas), mencakup disamping terbebas dari gejala-gejala halusinasi, delusi dan lain-lain, klien juga dapat bekerja atau belajar sesuai harapan keadaan klien dan masyarakat sekitar.

DAFTAR PUSTAKA

Arif, I.S., 2006, Skizofrenia Memahami Dinamika Keluarga Pasien, Refika Aditama, Bandung

Hawari, D., 2003, Pendekatan Holistik Pada Gangguan Jiwa : Skizofrenia, Balai Penerbit FKUI, Jakarta

Maramis, W.F., 1994, Catatan Ilmu Kedokteran Jiwa, Airlangga University Press, Surabaya