Rabu, 06 April 2011

Komunikasi Terapeutik

Komunikasi Terapeutik

1. Pengertian

Komunikasi terapeutik adalah komunikasi yang direncanakan secara sadar, bertujuan dan kegiatannya dipusatkan untuk kesembuhan pasien (Musliha dan Fatmawati, 2009).

Komunikasi terapeutik adalah komunikasi yang direncanakan, disengaja dan merupakan tindakan profesional. Komunikasi terapeutik bertujuan membantu klien mencapai hubungan baik perawat dan klien dan membantu klien memahami tujuan dari tindakan perawatan yang dilakukan (Potter & Perry, 2005).

Komunikasi terapeutik adalah suatu interaksi interpersonal antara perawat dan klien yang selama interaksi berlangsung, perawat berfokus pada kebutuhan khusus klien untuk meningkatkan pertukaran informasi yang efektif antara perawat dan klien (Videbeck, 2008).

2. Tujuan Komunikasi Terapeutik

Menurut Videbeck (2008), komunikasi terapeutik digunakan untuk mencapai banyak tujuan, yang meliputi hal-hal sebagai berikut:

a. Membangun hubungan terapeutik perawat-klien.

b. Mengidentifikasi masalah klien yang paling penting pada saat tersebut tepat pada waktunya (tujuan berpusat pada klien).

c. Mengkaji persepsi klien tentang masalah saat klien terbuka dalam menceritakan peristiwa tersebut.

d. Mengenali kebutuhan mendasar klien.

e. Mamandu klien dalam mengidentifikasi cara pencapaian solusi yang memuaskan dan dapat diterima oleh klien.

3. Prinsip Komunikasi Terapeutik

Menurut Nurjannah (2004), prinsip komunikasi terapeutik, sebagai berikut:

a. Perawat harus mengenal dirinya sendiri yang berarti menghayati, memahami dirinya sendiri serta nilai yang dianut.

b. Komunikasi harus ditandai dengan sikap saling menerima, saling percaya dan saling menghargai.

c. Perawat harus memahami, menghayati nilai yang dianut oleh pasien.

d. Perawat harus menyadari pentingnya kebutuhan pasien baik fisik maupun mental.

e. Perawat harus menciptakan suasana yang memungkinkan pasien memiliki motivasi untuk mengubah dirinya baik sikap maupun tingkah lakunya sehingga tumbuh makin matang dan dapat memecahkan masalah-masalah yang dihadapi.

f. Perawat harus mampu menguasasi perasaan sendiri secara bertahap untuk mengetahui dan mengatasi perasaan gembira, sedih, marah, keberhasilan maupun frustasi.

g. Mampu menentukan batas waktu yang sesuai dan dapat mempertahankan konsistensinya.

h. Memahami betul arti simpati sebagai tindakan yang terapeutik dan sebaliknya simpati bukan tindakan yang terapeutik.

4. Teknik Komunikasi Terapeutik

Menurut Musliha dan Fatmawati (2009), adapun teknik dalam komunikasi terapeutik adalah sebagai berikut:

a. Mendengar aktif

Mendengarkan orang lain dengan penuh perhatian akan menunjukkan pada orang lain bahwa apa yang dikatakannya adalah penting dan dia adalah orang yang penting.

b. Mendengarkan pasif

Kegiatan mendengar dengan kegiatan non verbal.

c. Penerimaan

Mendukung dan menerima informasi dengan tingkah laku yang menunjukkan ketertarikan dan tidak menilai.

d. Klarifikasi

Klasifikasi sama dengan validasi yaitu menanyakan pada klien apa yang tidak dimengerti perawat terhadap situasi yang ada.

e. Focusing

Kegiatan komunikasi yang dilakukan untuk membatasi area diskusi sehingga percaya menjadi spesifik dan dimengerti.

f. Observasi

Kegiatan mengamati klien, kegiatan ini dilakukan sedemikian rupa sehingga klien tidak menjadi malu atau marah.

g. Menawarkan informasi

Menyediakan tambahan informasi dengan tujuan untuk mendapatkan respon lebih lanjut.

h. Diam (memelihara ketenagan)

Dilakukan dengan tujuan untuk mengorganisir pemikiran, memproses informasi, menunjukkan bahwa perawat bersedia untuk menunggu respon.

i. Assertive

Kemampuan dengan cara meyakinkan dan nyaman mengekspresikan pikiran perasaan diri dengan tetap menghargai hal orang lain.

j. Menyimpulkan

Membawa poin-poin penting dari diskusi untuk meningkatkan pemahaman. Memberi kesempatan untuk mengklasifikasi komunikasi agar sama dengan ide dalam pikiran.

k. Giving recognition (memberikan pengakuan/penghargaan)

Merupakan teknik untuk memberikan pengakuan dan menandakan kesadaran.

l. Offering self

Menyediakan diri tenpa respon bersyarat atau respon yang diharapkan.

m. Giving broad opening (memberi pertanyaan terbuka)

Mendukung klien untuk meneruskan.

n. Placing the time in time/sequence (menempatkan urutan/waktu)

Melakukan klarifikasi antara waktu dan kejadian atau antara satu kejadian dengan kejadian lain.

o. Encourage description of perception (mendukung deskripsi dari persepsi)

Meminta pada klien mengungkapkan secara verbal apa yang dirasakan atau diterima.

p. Encourage comparison (mendukung perbadingan)

Menanyakan pada klien mengenai kesamaan atau perbedaan.

q. Restating (mengulang)

Pengulangan pikiran utama yang diekspresikan klien.

r. Reflecting (refleksi)

Mengembalikan pikiran dan perasaan klien.

s. Exploring (eksplorasi)

Mempelajari suatu topik lebih mendalam.

t. Presenting Reality (menghadirkan realitas/kenyataan)

Menyediakan informasi dengan perilaku yang tidak menilai.

u. Voucing doublt (menyelipkan karaguan)

Menyelipkan persepsi perawat mengenai realitas.

5. Faktor Penunjang dan Penghambat

Menuru Muliha dan Fatmawati (2009), faktor penunjang dan penghambat dari komunikasi terapeutik, yaitu:

a. Faktor penunjang

Faktor penunjang komunikasi terapeutik dapat dilihat dari klien dan perawat, yaitu:

1) Dilihat dari klien

Kecakapan dan kemauan klien dalam menceritakan masalahnya. Sikap klien yaitu sikap klien yang mau menceritakan masalahnya dengan sungguh-sungguh dan bersedia dibantu.

2) Dilihat dari perawat

Berhasilnya tidaknya komunikasi ditentukan oleh perawat, maka yang dibutuhkan adalah:

a) Kecakapan perawat dalam mengajukan pertanyaan terbuka yang dapat menggali seluruh masalah.

b) Sikap perawat. Harus bersikap ramah, jangan sampai klien curiga, diharapkan perawat dapat mendekati klien sehingga timbul rasa saling percaya.

c) Pengetahuan perawat. Pengetahuan yang berpengetahuan luas dengan mudah dapat mencerna ini pembicaraan serta cepat tanggap terhadap pembicaraan klien.

d) Seluruh komunikasi perawat (mata, hidung, otak, telingan dan tangan). Seluruh indera perawat harus sehat sehingga dengan cepat dapat mengambil kesimpulan pembicaraan.

b. Faktor penghambat

Faktor-faktor yang menghambat komunikasi adalah:

1) Perawat kurang cakap dalam mendengarkan dan mengajukan pertanyaan terbuka serta menyimpulkan inti pembicaraan, sehingga tidak dapat menangkan pembicaraan.

2) Sikap perawat yang acuh tak acuh, tidak dapat menyesuaikan diri dengan keadaan sekelilingnya, sikap yang kurang ramah terhadap klien atau keluarga.

3) Pengetahuan klien kurang. Bila demikian, hendaknya perawat dapat menggunakan bahasa yang sederhana dan mudah dimengerti oleh klien.

4) Prasangka (prejudice) yang tidak mendasar yaitu kecurigaan yang tidak beralasan, dimana bisa terjadi dimasyarakat yang berpengetahuan rendah atau klien kurang mengerti tentang perawatan.

6. Tahapan Interaksi Perawat-Pasien dalam Komunikasi Terapeutik

Adapun tahapan interaksi perawat pasien dalam komunikasi (Nurjannah, 2004), yaitu sebagai berikut:

a. Tahap pre interaksi

Kegiatan yang dilakukan meliputi: mengumpulkan data tentang klien, mengeksplorasi perasaan, fabtasi dan ketakutan klien, membuat rencana pertemuan dengan klien (kegiatan, waktu dan tempat).

b. Tahap orientasi

Kegiatan yang dilakukan meliputi: memberikan salam dan tersenyum pada klien, melakukan validasi (kognitif, psikomotor, afektif), memperkenalkan nama perawat, menanyakan nama panggilan kesukaan klien, menjelaskan tanggung jawab perawat dan klien, menjelaskan peran perawat dan klien, menjelaskan kegiatan yang akan dilakukan, menjelaskan tujuan, menjelaskan waktu yang dibutuhkan untuk melakukan kegiatan dan menjelaskan kerahasiaan.

c. Tahap kerja

Kegiatan yang dilakukan meliputi: memberi kesempatan pada klien untuk bertanya, menanyakan keluhan utama atau keluhan yang mungkin berkaitan dengan kelancaran pelaksanaan kegiatan, memulai kegiatan dengan cara yang baik dan melakukan kegiatan sesuai dengan rencana.

d. Tahap terminasi

Kegiatan yang dilakukan meliputi: menyimpulkan hasil kegiatan (evaluasi hasil dan proses), memberikan reinforcement positif, merencanakan tindak lanjut dengan klien, melakukan kontrak untuk pertemuan selanjutnya (waktu, tempat, topik) dan mengakhiri kegiatan dengan cara yang baik.

Poskan Komentar